Adversity Quotient Turning Obstacles Into Opportunity

  • Bagikan


Ada sebuah kalimat bijaksana berkata demikian: “Sebuah Perahu tidak akan tenggelam sekalipun dia dikelilingi oleh air. Perahu akan tenggelam jika air tersebut masuk ke dalamnya.”

Masalah yang ada di sekeliling kita tidak akan pernah membuat kita tenggelam dalam masalah kecuali jika kita membiarkan masalah itu masuk ke dalam diri kita.

banner 336x280

Tahukah mengapa ikan yang hidup di laut yang asin seperti ikan Salmon atau ikan Tuna, rasa dagingnya tawar?

Pernah makan Sashimi? kita pasti bisa merasakan bahwa ikan air laut itu tidak asin rasanya. Tapi Ketika ikan itu mati dan kita rendam di air laut, tidak perlu waktu yang lama ikan itu rasanya akan berubah menjadi asin. Mengapa?

Jawabannya adalah karena ikan hidup mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan kelebihan garam dalam tubuhnya untuk mengatur elektrolit di dalam tubuhnya. Sedang ikan mati tidak!

Pada suatu pagi yang cerah ada seorang petani yang begitu bosan dengan hidupnya dan Ia merasa letih dengan semua beban hidupnya.

Petani itu sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun Ia berpikir untuk datang mengunjungi seorang kakek tua yang terkenal bijaksana yang tinggal tidak jauh dari desanya. Kakek itu hidup agak terpencil dekat tepian sebuah danau.

Di depan sang kakek yang bijaksana tersebut petani itu menghembuskan nafasnya yang berat yang penuh dengan kegetiran hidup.

Si petani mulai mengeluh tentang hidupnya, bahwasanya dia memiliki beban yang berat sehingga dia tidak dapat melihat cahaya siang yang cerah sama sekali, itu seperti satu masalah menimpa kepalanya dan masalah lainnya memelintirnya di antara batu-batu yang kasar.

Bahkan ia merasa ia tidak dapat menghirup udara segar. Petani itu pun mulai menyalahkan semua keluarganya, yang menurut pendapatnya, telah membuatnya berada dalam situasi seperti ini. Sehingga ia terus terbenam dalam masalah dan masalah tanpa bisa keluar darinya.

Kakek bijak itu dengan senyum welas asihnya mendengarkannya dan menyimak dengan baik.

Dan ketika petani sekali lagi bertanya dengan hati-hati kepada orang bijak itu, mengapa hal yang sangat tidak adil seperti ini bisa terjadi dan apa yang harus dia lakukan serta bagaimana ia bisa keluar dari masalah ini?

Kakek bijak itu kembali tersenyum dan ia bangkit dari tempat duduknya dan mengundang petani itu untuk mengikuti dia.

Mereka keluar dari gubuk dan pergi ke tepi danau dan menuju jembatan titian yang menjorok masuk ke tengah danau.

Di sana sang Kakek meminta untuk duduk sambil menatap ke tengah danau. Ternyata di Danau itu ada ikan terbang yang melompat, menggelepar dengan cepat di atas permukaan air untuk menangkap serangga yang ada dipermukaan air.

Kakek bijak itu berkata kepadanya:

“Apakah kamu bisa melihat kekeruhan danau itu? Di dalam danau yang keruh ini penuh dengan kehidupan. Ada ikan yang selalu tinggal di air, dan jika danau ini menjadi keruh sekali, mereka bahkan tidak bisa melihat hidung mereka sendiri, mereka tidak akan tahu di mana sumber kekeruhan itu dan di area mana yang masih bening? Mereka hanya akan terus berenang berputar-putar.

Tapi disini ada juga ikan yang punya sayap dan mereka bisa terbang di atas air danau, melihat permukaan air danau dari ketinggian mereka terbang dan dengan begitu mereka bisa mencari makan lagi.

Jadi ini saran saya: daripada mengeluh tentang hidup Anda terus menerus, datanglah ke tepi danau ini dari waktu ke waktu, perhatikan ikan terbang dan cobalah untuk memahami apa yang ingin saya katakan kepada Anda. ”

Apa itu Adversity Quotient?
Adversity Quotient adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada serta sanggup bertahan hidup.

Dengan AQ, seseorang akan diukur kemampuannya dalam mengatasi setiap persoalan hidup serta tidak mudah berputus asa.

Menurut Paul G. Stoltz, Ph.D yang mengarang buku Adversity Quotient: Turning Adversity into Opportunity. Di dunia ini ada tiga Tipe Manusia:

1. Climbers (tipe pendaki), Mereka yang selalu optimistik, melihat peluang-peluang, melihat celah, selalu bergairah untuk maju. Wirausahawan atau entrepreneur biasanya berkarakter sebagai pendaki.

2. Campers (tipe orang yang suka berkemah), Tidak pernah mencapai puncak. Sudah puas dengan apa yang dicapainya. Para pegawai kantor biasanya berkarakter sebagai orang yang suka berkemah, karena biasanya tipe ini gampang merasa puas dengan prestasi yang dimiliki saat ini.

3. Quitters (tipe orang yang gampang menyerah), orang-orang tipe jenis ini berhenti di tengah proses pendakian, gampang putus asa, menyerah. Pemalas, pengangguran memiliki karakter Quitters.

Pertanyaannya adalah Bagaimana membangun Adversity Quotient ini? Menurut Stoltz, ada 3 Building Blocks cabang psikologi yang harus diketahui dan dipelajari.

Yang pertama adalah Psikologi Kognitif.

Ilmu yang satu ini berbicara tentang bagaimana kita bisa mempunyai mentalitas yang kuat, Teguh, Tidak mudah menyerah, Tabah, Resiliensi yang tinggi, Optimisme dan kontrol diri (self control) yang baik. Ilmu ini adalah ilmu yang paling penting dalam Adversity Quotient.

Yang kedua adalah Psikoneuroimunologi.

Ada pepatah mengatakan bahwa di dalam diri yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Di ilmu ini diketahui bahwa kekuatan mental yang bersangkutan bahkan berpengaruh terhadap Kesehatan fisiknya.

Ada orang-orang yang sebenarnya secara fisik sudah tidak mampu lagi diselematkan, tapi karena kekuatan mentalnya, kemauannya / motivasinya untuk hidup yang tinggi. Maka ia dapat terus bertahan dan bahkan bisa menjadi sehat kembali.

Yang ketiga adalah Neuropsikologi.

Di dalam ilmu ini dipelajari bahwa Otak secara ideal terus digunakan oleh manusia untuk membentuk kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan menjadi semakin kuat di bagian bawah sadar.

Kebiasaan tak sadar (Unconscious habits), seperti halnya Adversity quotient (AQ) ini bisa dengan cepat dihentikan, atau diubah untuk membentuk suatu kebiasaan baru yang semakin lama semakin kuat seiring dengan berjalannya waktu.

Kita tidak bisa menghindar dari masalah hidup. Yang perlu kita lakukan adalah hadapilah dengan berani. Tetap berdoa untuk kekuatan dari Tuhan. Dan Jangan menyerah… Sebab Kita adalah mahluk hidup yang belum mati.

Kita mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah, mengeluarkan racun-racun dalam tubuh kita untuk tetap sehat berkembang setiap hari.

”Sweet are the uses of adversity which, like the toad, ugly and venomous, wears yet a precious jewel in his head.” – William Shakespeare

Have a Safe & Healthy Day! GC



Source link

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *