A Not Perfect Film – MATRA

  • Bagikan


banner 468x60
Film A Perfect Fit 

A Not Perfect Film

Oleh: Wina Armada Sukardi

 Apakah sebuah skenario film yang baik dalam praktek dapat berubah menghasilkan film yang kurang baik, bahkan buruk?

Jawaban jelas: sangat mungkin. Contohnya film A Perfect Fit. Skenario yang ditulis oleh Garin Nugroho, sebenarnya,  cukup baik.

banner 336x280

Bagaimana nuansa dongeng Cinderela ingin dibumikan Garin dalam peristiwa modern di tanah Bali melalui A Perfect Fit,  ketika dieksekusi dengan tidak matang, berubah  menjadi sebuah film yang serba  centang perentang  di hampir semua unsur-unsurnya.

banner 336x280

Karakter para tokohnya sama sekali tidak jelas. Logika film nyaris tak ada. Sudut pandang gambar tidak memberikan aksentuasi makna apapun.

Bali yang eksotik dan magis, seakan tidak ada hubungan dengan jiwa film, sehingga gambar-gambat indah Bali cuma terasa sebagai tempelen.

“Rasa bahasa” film tak terasa sekali.  Walhasil  A Perfect Fit yang disutradarai  Hardah Daeng Ratu berubah menjadi A Not Perfect Film alias film yang tidak sempurna.

Film pertama yang diproduksi sendiri oleh Netflix Indonesia bersama produser Starvision ini menjadi film yang  bingkai ceritanya  tidak jelas, dan disampaikan dengan cara yang tidak jelas pula.

Mau disebut sebagai film komedi , jelas tidak lucu. Mau dibilang film romantik,  tidak terasa ada romantismenya. Apalagi kalau  mau dikategorikan film berakar pada tradisi, sama sekali tak ada hubungannya yang signifikan  antara tradisi Bali dengan ragkaian jiwa ceritanya.

Walaupun ada unsur  lokasi Bali,  korelasi dengan “jiwa’ Bali tidak ada. Maka  jika loksinya dipindahkan ke tempat manapun, tidak akan mengubah jalan cerita.

Alkisah  Saski (Nadya Arina) bersama pasangannya  Deni (Giorgino Abraham), seorang anak pengusaha, bakal melaksanakan pernikahan. Mereka sudah melangsungkan pertunangan.

Pada sisi lain, Rio (Refal Hady), seorang pandai sepatu,  sudah pula dijodohkan dengan Tiara (Anngikan Bolsterli).

Keadaan menjadi kacau balau manakala  Saski berjumpa dengan Rio. Terjadilah   cinta segi empat antara Deni dan Saski serta antara Rio dan Tiara

Sementara pemuka adat sudah menyatakan,  Saski tidak cocok untuk  berjodoh dengan  Deni. Ketidakcocokan hanya dapat diatasi jika memenuhi syarat-syarat tertentu.

Sebelumnya memang  Bu Hendra, seorang peramal, telah melihat kehidupan Saski bakal berubah. Saski akan mememperoleh pemandangan yang baru.

Parahnya, kehidupan Saski mulai berubah ketika saat-saat perkawinannya akan tiba.  Sebuah cerita yang jika diolah dengan baik dapat menjadi bahan film yang baik, tetapi karena  ekskusinya kurang matang jadilah filmya pun serba tanggung.

Sepanjang Film

Hampir sepanjang film terjadi adegan-adegan yang tidak jelas, tidak konsisten dan tidak masuk akal. Saski terpaksa menerima  Deni sebagai calon suaminya karena keluarganya, banyak berhutang kepada keluarga Dani.

Ibu Saski memang sedang sakit dan membutuhkan banya biaya untuk  perawatan.  Tetapi sepanjang film tidak jelas bagaimana keluarga Saski dapat berhutang Budi kepada keluarga Deni, sampai harus “menyerahkan” anak gadisnya dikawinankan dengan Deni.

Apalagi kalau melihat rumah keluarga Saski, dia bukanlah orang yang miskin-miskin amat, setidaknya  tidak ada informasi ini di film.

Serupa dengan hubungan antara Rio dan Tiara, karena ”waktu kita membutuhkan biaya mereka selalu datang membantu,” Rio perlu menerima Tiara sebagai calon istrinya. Tidak jelas seberapa besar bantuan itu sehingga  Rio harus mau kawin dengan perempuan yang tidak dia cintainya. Setidaknya,  tidak ada informasi dalam film ini.

Demikian juga Bu Hera, sang peramal, tidak jelas berakar budaya darimana. Menilik pakiannya dia bukanlah peramal yang berasal dari Bali.

Tak ada penjelasan apapun dari mana Bu Hera datang  di Bali. Mungkin dia turun langsung dari langit ke bumi. Padahal asal muasal Bu Hera penting untuk mengetahui akar budayanya, sehingga bagaimana alkulturasi dengan budaya Bali menjadi sesuatu yang menarik.

Beberapa adegan lain juga  sulit  dapat diterima akal sehat. Saski masih terus sengaja berhubungan  dengan Rio, padahal  Rio sudah jelas-jelas tidak disukai  Deni. Alasan Siska, di Bali  Rio merupakan pembuat sepatu terbaik, tidak didukung informasi yang kuat, apalagi dikomperasi dengan pandai sepatu lainnya, walau sepintas kilas. Saski tidak hanya terus berhubungan dengan Rio, tetapi, wouw,  juga membawa Rio kepada orang tuanya.

Sewaktu Rio ingin mengantarkan Saski pulang dengan motor vespanya,  jelas-jelas dalam dialog disebut mereka akan bertiga (Rio, Siska dan seorang kawan perempuanya), tapi tanpa informasi apapun tinggal hanya Rio dan Siska saja yang meluncur berdua.

Ada inskosistensi. Mungkin yang seorang menguap ditelan bumi. Kebetulan turun hujan sehingga mereka harus berteduh lebih dahulu di bawah pohon, dan seperti  banyak film-film pasaran, di bawah pohon itulah Siska dan Rio dapat kesempatan untuk saling berciuman.

Begitu pula betapa dungunya  seorang lelaki yang mendekati hari perkawinan dan masih memanggil dua wanita penghibur sekalian, tetapi ketika akan “main” tidak menutup pintu sehigga dapat direkam oleh orang lain, dalam hal ini teman Siska. Rekaman inilah yang kemudian dijadikan bukti bagi Siska, calon suaminya bukanlah lelaki yang setia.

Dengan  konsep pembuatan film yang tidak fokus,  membuat pemandangan dan kebudayaan Bali  jadi seperti gambar kartu pos yang indah tetapi tidak memberikan makna apa-apa buat film. Dalam beberpa adegan bahkan kentara sekali sangat dipaksakan.

Diperlihatkan ketika Siska dan Deni ribut dalam mobil, demi untuk memperoleh latar belakang pemandangan pantai, ditunggulah sampai pantai baru Siska turun dari mobil dan kemudian berdialog dengan Deni dengan latar belakang pantai.

Hal yang sama tepat terjadi pula dengan pasangan Rio dan Tiara. Mereka ribut dan di dekat pantai mereka turun meneruskan keributan dengan latar belakang pantai. Dengan begitu latar belakang pantai cuma jadi pemandangan indah yang dicari-cari tetapi tidak terkait langsung dengan pemaknaan film.

Properti film pun mengandung tanda tanya. Toko sepatu milik Rio tidak  nampak sebagai foto sepatu, apalagi toko sepatu yang berkelas.

Kecilnya toko ditambah  dengan penataan etalase toko sepatu tidak menarik, membuat toko itu lebih cocok seperti penjual sepatu murahan. Apalagi jumlah, dan terutama jenis sepatu yang dipajang, kelihatan sekali bukanlah sepatu-sepatu berkualitas.

Ruangan yang kecil, mestinya bukan halangan untuk menghasilkan gambar-gambar yang menarik. Hanya saja untuk dapat menghasilkan gambar yang bagus perlu persiapan yang matang. Sudut pandang atau angle kamera harus diperhitungkan dengan presisi yang tinggi.

Penyusunan set harus sejak awal memperhitungkan di mana kamera sebaiknya ditempatkan.  Kerapian inilah yang tidak ada di A Perfect Fit.

Musik menambah ketidaknyaman film utuk dilihat. Bunyi music terkesan “asal keras’ aja dan tidak menafsirkan adegan atau “roh” film. Akibatnya ketika pemain berdialog dan ada musik, dialognya nyaris tidak terdengar lantaran tertutup kerasnya suara music.

Mengabaikan Potensi

Kerangka cerita dan lokasi pengambilan film sesungguhnya memberikan peluang untuk menghasilkan adegan-adegan dan gambar yang kuat, tetapi  para kreatornya menggabaikan potensi ini. Misalnya, ketika peramal meminta bulu angksa dilembar ke atas, dapat ditafsirkan dengan berbagai kemungkinan dan diwujudkan banyak gambar yang menarik, sekaligus memberikan garis merah untuk kisah cerita film selnjutnya.

Momen ini dapat dihadirkan menampilkan simbol-simbol perubahan dan simbol kearah mana perubahan terjadi.  Bukan sekedar dimakna harafiah seperti ditampilkan  film.

Demikian pula sepatu sebagai salah satu filosofi atau landasan cerita film ini  dapat dieksplotasi menjadi menarik, baik secara simbolis maupun secara fisik lewat angle yang cermat. Filosofi sepatu dapat divisalkan dengan berbagai cara yag menarik. Tapi semua ini terabaikan.

Salah satu contoh adegan yang menarik dalam film ini ketika ibunya Saski sakit dan melakukan “meditasi”  penyembuhan ala tradisional. Dia melakukan gerakan-gerakan yang menarik yang mecerminkan kearifan lokal diambil juga dengan cara menarik.

Pembelajaran

Dari karya film ini kita dapat mengambil beberapa pembelajaran. Skenario yang baik tidak menjamin hasil film yang baik pula. Perlu ada persiapan detail yang matang agar skenario yang baik dapat menghasilkan film yang baik.

Skenario harus diuraikan dengan detail dalam shot-shot dan adegan-adegan. Selain itu perlu juga di analisis seluruh ragkaian adegan agar tetap  garis merah terjaga.

Begitu juga  lokasi dengan  pemandangan yang indah dan budaya yang eksotik tidaklah otomatis melahirkan gambar-gambar yang menyentuh.

Kalau tidak ada tali penghubung antara keindahan dan kekayaan budaya lokasi film dengan cerita dan gambar film, hal itu menjadi mubasir. Justeru keindahan alam dan kekayaan budaya malah menjadi bumerang untuk film, karena menjadi salah satu titik lemah.

Film adalah seni terapan teknologi. Disana ada unsur teknis, tetpi juga ada unsur estetika. Gabungan itulah yang kemudian mempu membangun “rasa” sebagai bahasa film. Justeru “rasa” inilah tidak kita peroleh pada film ini.

Di sinilah persiapan pra produksi menjadi sangat penitng dalam proses produksi film. Persiapam produksi tidak hanya menyangkut teknis manajerial saja, tetapi juga harus mencakup persiapan estetika film.

Lalu persiapan itu pun masih harus dieksekusi dengan baik. Kalau tidak bakal seperti kasus film A Percet Fit mejadi A Not Perct Film***

#Wina Armada Sukardi, kritikus film.

 

A Not Perfect FilmA Not Perfect Film

 

 

A Not Perfect Film



Source link

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *