Tarif Booking Artis di Masa Pandemi, Dibongkar Pengamat Gaya Hidup

  • Bagikan


Re-post:  Beritasenator.com.  Tulisan ini menjadi berita terpopuler, Portal Anak Muda yang bernama Berita Senator. Masih di rangking atas, dalam dua hari ini. 

banner 336x280

“Kalau yang begini ini, jangankan publik figur dan calon artis. Pramugari juga ada,” ujar Asri Hadi, sembari tertawa menanggapi beredarnya selebaran artis A, kemudian artis B, korban Covid, karena tak ada order menjadi jual diri dan serta siap menjadi istri siri.

Harga fantastis yang beredar itu, menurut Asri Hadi itu adalah banrol tahun 2020 yang lalu, sebelum masa pandemi. Itu bisa-bisanya si germo aja. Kadang yang ditawari siapa, yang dikirim hanya mirip siapa. Hoax.

“Sekarang tarifnya negotiable,” dosen yang juga jurnalis ini mengungkap fakta dari liputan dan teman sekelilingnya, yang memang born with silver spoon.

Istilah dari ini diambil dari masanya di tahun 1700 an era abad pertengahan di Eropa terutama di daerah pinggiran terdapat sebuah kebiasaan. Dimana orang-orang membawa sendoknya sendiri kemana-mana, sebelum akhirnya muncul budaya etika meja makan dimana peralatan makan ditata di meja.

Di daerah pedesaan, para tuan tanah seringkali membawa sendok perak (silver spoon) sebagai penanda bahwa mereka orang berada mampu membeli alat makan yang terbuat dari perak, karena perak waktu itu tergolong mewah.

Kini, muncul istilah “born with a silver spoon in his mouth” atau terlahir dengan sendok perak ungkapan ini menandakan bahwa si anak tersebut terlahir dari keluarga berada yang alat makannya terbuat dari perak alias auto kaya.

Golongan ini, masih iseng. “Ya udah, mana pramugarinya, sini gue sewain apartemen,” ucap Asri Hadi menjelaskan fenomena pria-pria sejati, yang memang dari sono-nya sudah auto kaya. Sementara si perempuannya dengan biaya tinggi, karena cantik, perlu perawatan ini dan itu. Biaya hidup tinggi.

Perilaku menular di kalangan artis ini, dalam hal biaya operasi “membesarkan” ini dan itu, kini ke kehidupan pribadi. Di jaman pandemi, sama saja. Malah si germo menyebut, artis atau yang ditawarkan sudah divaksin kok, aman.

“Kalau yang tertangkap, adalah mereka yang apes saja. Ha-ha-ha. Sejatinya semua terjadi, karena ada supply and demand,” pria yang Bendahara Asosiasi Media Digital (AMDI) ini memaparkan.

Asri Hadi, sebagai pengamat sosial kembali melihat, fakta seperti sebagai fenomena umum.  Tak menarik-menarik amat.

Dari dulu, ada yang namanya mucikari bisa menghadirkan artis-artis cantik atau perempuan, bahkan pengacara cantik.  Muda, putih, seksi dan mulus.

Bedanya, saat sekarang ada banyak aplikasi chat jodoh, lewat unggahan Instagram stories-nya atau malah langganan dari pergaulan. “Tiba-tiba mereka Whatsapps, apa kabar, sembari kirim foto terkini,” kata Asri Hadi.

Kalau tarif yang beredar, menurut Asri Hadi itu hanya modus sang germo saja. Artis hanya mendapat mungkin separuhnya, dari tarif “indehoy” itu.

Untuk tarif booking Rp 80 juta hingga banderol harga Rp 25 juta sekali kencan, hanya oknum petugas yang 86, ketika membuat Berita Acara Kepolisian.  Tak jelas apakah rate- mereka sebesar itu.

Yang jelas, tidak sekali ini saja, artis beberapa nama artis terseret dalam dugaan “prostitusi” apa online atau off air.

Dalam perjalanan kasus hukumnya,  si artis masih dianggap sebagai korban. Dalam hitungan bulan, kambuh lagi. Jika tak “dirawat” bos, ia akan bermain “sekali pukul” lagi.

Ujungnya,  perempuan yang kena OTT “tertangkap tangan” ketika sedang berada di kamar bersama dengan seorang pria hidung belang.   Oleh aparat hukum, “Saya hanya korban,” ujarnya.

Asri Hadi (pengamat sosial) memaparkan, para publik figur dan calon artis ini diduga mengambil jalan pintas dengan terjun ke dunia prostitusi demi memenuhi hasrat gaya hidupnya yang glamor dan hedonisme.  Dan realitasnya,  nama artis yang terungkap, ujungnya mereka masih dianggap sebagai korban.

Ini merupakan puncak gunung es.  Tentu orang sudah lupa, ketika FNJ yang merupakan artis pendatang baru, terjerat dalam kasus prostitusi online. Dia tertangkap sekamar dengan tersangka korupsi  kepala daerah, berinisial W.

Ada juga AA. Aktris yang tertangkap polisi di sebuah hotel di bilangan Jakarta Selatan. Dia diamankan bersama RA yang menjadi mucikari dari jaringan prostitusi artis saat itu.

Dari model hingga pedangdut yang melejit dengan singlenya berjudul Klepek-Klepek. Semua namanya masuk dalam jaringan prostitusi artis di Indonesia. Bayarannya, jutaan rupiah sekali “pukul.”

Tentu Anda masih ingat ketika NM, model seksi yang sempat berjilbab itu pernah diamankan dalam sebuah penggerebekan di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (10/12/2015).

Tarif yang dipasang Rp 50 – 120 juta per short time atau 3 jam. Untuk NM Rp 65 juta.

PR yang merupakan finalis Miss Indonesia 2014 juga pernah ditangkap dalam penggerebekan yang dilakukan pihak Kepolisian bersama dengan NM di sebuah hotel mewah di Jakarta Pusat.

Polisi menyamar sebagai pelanggan jasa esek-esek, untuk PR Rp 50 juta.

Artis AA sempat menjadi artis yang beken di 2015, karena disebut-sebut memasang tarif Rp 80 juta sekali kencan dengan pembayaran di awal sebesar Rp 7 juta.

Model TM juga masuk daftar artis prostitusi yang dibongkar mucikari artis, RA.

RA membeberkan identitas artis yang dia bina dan ditawarkan kepada pengusaha, politisi dan pejabat. Hanya mengenalkan, si calo mendapat honor 5 juta dan si artis 20 juta.

SB yang dikenal sebagai artis dangdut, memasang tarif 35 juta.

Harga artis beredar di grup BlackBerry Messenger (BBM) dan Facebook (FB). “Online hanya bagian dari strategi marketing,” ujar Asri Hadi yang menyebut tak perlu menghakimi artis atau bukan, karena setiap profesi bisa saja itu terjadi.

Intinya, “Mereka sang artis dan model butuh uang tambahan. Mereka lebih mencari materi yang ketimbang kenikmatan sesaat karena ada pergeseran orientasi kapital. Ekonomi sulit cenderung memilih jalan lain untuk mendapatkan uang.”

Asri Hadi menyebut beberapa artis dengan gaya hidup glamour seperti kena virus covid-19. Ia akan mudah menularkan ke rekan sesama artis, dengan proses jual diri, bukan dengan prestasi.

“Ada yang lebih nyaman jadi istri simpanan atau nikah siri,” ujar aktivis anti narkoba, yang juga pendiri majalah HealthNews, media agains drugs yang direkomendasikan oleh Badan Dunia PBB UNODC, sebagai media cegah narkoba, satu-satunya dari Indonesia.

 



Source link

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *