Akademisi, Praktisi Media dan Humas Diskusikan Manajemen Krisis

  • Bagikan


Manajemen Krisis dan Audit Komunikasi Mengapa Perlu?

banner 336x280

Walau diskusinya sudah berlangsung melalui zoom meeting pada Sabtu (11/9) lalu, ternyata masih diperbincangkan dan tetap menarik hingga kini.

Diawali dengan pemaparan singkat mengenai ketidakpastian tinggi dan kemajuan teknologi komunikasi digital yang membuat situasi dunia sangat rentan.

Kelompok studi yang diikuti sejumlah kalangan, dari kelompok akademisi komunikasi, manajemen, praktisi media dan public relations itu menarik, karena ternyata yang disebut manajamen krisis itu, menjadi sesuatu yang “Seksi”.

Ingin diketahui, ingin dipahami, untuk kemudian diskusi yang baru pertamakali menguak, dibalik cerita dan misteri mengatasi manajemen krisis, yang secara nalar dan ilmu komunikasi diluar logika.

Diperlukan helikpter view kemudian jenderal lapangan, dalam penerapan manajemen krisis dan audit komunikasi guna menghindari kerugian fatal di berbagai aspek kehidupan manusia dan bisnis.

Langkah efektif, segera dan mirip pekerjaan mission imposibble, dalam atasi kompleksitas dan ketidakpastian tinggi yang meluas.

Dekan Fakultas Ilmu Adminsitrasi Bisnis dan Komunikasi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Dr. Eko Widodo, dalam pengantar diskusi menyampaikan poin ini, terkait New Normal.

Manajemen krisis dan audit komunikasi, mengingat pengaruh dari kondisi Industri 4.0 yang berpotensi mendegradasi kehidupan manusia.

“Kami mendukung inisiasi ini, karena melihat perkembangan situasi yang semakin membutuhkan kecepatan dan ketepatan penanganan,” kata Eko Widodo.

Masih dalam penjelasan Eko, kehidupan organisasi maupun korporasi dalam berbagai bentuknya dapat bertahan dan terus berkembang di tengah ketidakpastian seperti saat ini, tentunya tak lepas dari manajemen krisis itu.

Hingga kemudian, dalam diskusi lewat zoom itu menelorkan ide. Perlu adanya suatu kelompok studi yang secara khusus membahas Manajemen Krisis dan Audit Komunikasi.

Tentunya, karena dapat menjadi sumber referensi praktis maupun akademis yang kredibel.

Ada tiga alasan utama.

Pertama, meski bersifat universal, manajemen krisis sangat tergantung pada karakter dan bidang bisnis organisasinya.

Kedua, dengan pemetaan dan pembelajaran dari berbagai kasus krisis dapat dibangun secara konseptual strategis pencegahan krisis, serta penanganan krisis yang lebih cepat dan tepat.

Ketiga, media sosial yang juga dapat menjadi salah satu alat monitoring untuk indentifikasi krisis perlu optimalisasi pengelolaan.

“sehingga menjadi bagian strategis manajemen krisis,” kata Dorien Kartikawangi, inisiator diskusi kelompok studi itu.

Awal kemunculan kelompok studi Manajemen Krisis dan Audit Komunikasi ini bermula dari keprihatinan Dorien Kartikawangi, dosen senior pengajar komunikasi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Dorien kemudian mengajak koleganya, Benny S. Butarbutar, penasehat media dan komunikasi Dirut Perum BULOG untuk mewujudkan kelompok kajian tersebut.

Gagasan itupun mendapat sambutan positif dari Eko Widodo yang kemudian direalisasikan melalui diskusi perdana yang melibatkan kalangan akademisi dan profesional media serta Humas.

Dalam obrolan santai itu, bersuara Fardilla Astari (Direktur Komunikasi Rajawali Foundation), Nia Sarinastiti (dosen komunikasi korporasi).

Keduanya membahas pesoalan audit komunikasi guna mengukur keberhasilan program komunikasi ataupun kehumasan.

Dari profesional media dan Public Relations hadir Apreyvita Wulansari (Pemimpin Redaksi iNews TV), juga S. S. Budi Rahardjo (Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia) yang juga CEO dan Pemred Majalah MATRA.

Hadir Eko Ardiyanto (jurnalis iNews), Michael Reza Say (VP Public Affairs Gojek Indonesia), Gloria Oyong (Direktur Komunikasi Korporat Kompas Gramedia Group) juga Sari Widuri (Pemimpin redaksi womanindonesia.co.id).

Dalam zoom meeting itu ada juga akademisi lintas disiplin, Rosdiana Sijabat (pengajar Ekonomi Makro), dan Satria Kusuma (pengajar Komunikasi Pembangunan).

Dorien Kartikawangi yang juga Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi (FIABIKOM) menyatakan hal ini.

Sebagai upaya dan wujud kontribusi Prodi dan khususnya Ilmu Komunikasi dalam memberikan alternatif solusi bagi berbagai pihak.

“Tentu upaya ini tidak dapat dilakukan sendirian, membutuhkan kolaborasi profesional, pemerintah, masyarakat dan media,” masih kata Dorien.

Maka, semua pun sepakat hasil pemikiran yang sudah disampaikan dalam diskusi ini bisa menjadi kontribusi pemikiran ke tingkat global dengan membawa perspektif Indonesia dan regional Asia.

Kolaborasi ini juga merupakan wujud Kerjasama Perguruan Tinggi dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) yang sangat didorong oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Dirjen Dikti,” katanya.

Tentang Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Atma Jaya

Unika Atma Jaya yang berdiri tanggal 1 Juni 1960 kini memiliki 20 program studi sarjana (S1) dan 14 program Pascasarjana serta 4 Prodi Profesi.

Berbagai penghargaan telah diraih antara lain tahun 2019 meraih bintang lima, kategori tertinggi pada bidang Social Responsibility dan Employability, serta bintang lima untuk kategori online learning pada tahun 2020.

Pemeringkatan dilakukan oleh lembaga peringkat dunia berbasis di London, QS Stars. Unika Atma Jaya memiliki 3 lokasi yaitu Kampus Semanggi sebagai Center for Nation Development.

Mengembangkan beragam kajian yang sangat relevan dengan sinergi Bisnis-Pemerintah-Masyarakat. Kampus Pluit sebagai Center for Health Development.

Menyelenggarakan pendidikan Kedokteran dan Farmasi yang unggul, berkualitas, dan bereputasi internasional melalui metode experiental learning hospital bersama Rumah Sakit Atma Jaya.

Kampus BSD sebagai Center for Human Development di BSD. Berfokus pada pengembangan dan pembentukan karakter mahasiswa sebagai penerus bangsa. http://atmajaya.ac.id

BACA JUGA: MAJALAH MATRA edisi TERBARU



Source link

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *