Gaya Hidup Cerutu – Konvergensi Majalah MATRA

  • Bagikan


 

banner 336x280

MATRANEWS.id — “Gaya hidup cerutu tetap ada, hanya saja peminatnya berkurang gara-gara di restoran mal  enggak  nyeruIu atau ngerokok,” ujar Iwan, sebut aja begitu.

Cerutu merupakan simbol kenikmatan sejak dulu. Itu sebabnya, ada kesan klasik yang tampak saat pencinta mengisapnya.

Belakangan, cerutu menjadi trend, bukan lagi sekadar teman waktu senggang. Komunitas cerutu pun mulai berkembang.

Sesungguhnya, banyak cerita yang tersulam di balik cerutu ini. Sebelum api memercikinya dan menebarkan aroma khasnya.

Ada cerita mengenai “kegilaan Fidel Castro” kepada cerutu”

Castro dan cerutu ibarat lebah dan madu. Entahlah, apakah itu menjadi nilai lebihnya atau justru menjadi titik lemah pemimpin revolusi Kuba itu.

Kenyataannya, cerutu yang sangat dicintainya itu bisa kapan saja mendatangkan malapetaka baginya. Operasi Mongoose yang dilakukan badan intelijen pusat Amerika Serikat (AS) alias CIA, harusnya membuat bulu kuduk Castro berdiri.

Masyarakat dunia, umumnya tahu begitu bencinya pemerintah Amerika Serikat turun-temurun kepada Castro.

Segala macam cara dirancang untuk menyingkirkan pria berewokan itu. Bukan hanya usaha untuk melengserkannya dari kursi empuk kepemimpinan negara beribu kota Havana itu, tapi kalau bisa melenyapkannya dari muka bumi.

Dari Operasi Mongoose itu terbetik akal licik sang adidaya.

Kegandrungan Castro pada cerutu, membuat CIA menyelundupkan cerutu yang akan meledak, begitu Castro mengepulkan asap tembakau havana-nya.

Bukan main. Sebuah akal-akalan yang tak ubahnya kebusukan Brutus menikam Caesar.

Mungkin, karena begitu hafalnya Castro pada cerutu-cerutu sampai aroma dan garis lipatannya, membuat ia tetap memimpin Kuba, sampai sekarang – sementara Presiden AS telah berganti 10 kali. Apa jadinya, bila ia salah memilih cerutu yang bisa meledak dan membubungkan nyawanya.

Castro dan cerutu pula yang membuat Alina Fernandes – putri hubungan gelap Castro dan Natalia Revuelta – bisa mengingat ayahnya.

“Yang saya ingat, ia adalah seorang pemalu, berbadan besar, dan muka penuh jenggot. Sebilah cerutu selalu terselip di bibirnya,” kata Alina, mengingat masa ketika ia berusia 10 tahun dan belum hengkang ke Miami, AS.

Kisah lain yang dramatis pun pernah terjadi. John F. Kennedy sebagai pelakon utamanya. Presiden AS itulah yang menandatangani embargo perdagangan ke Kuba pada 1962, yang hingga kini masih berlaku.

Lucunya, sebelum mengguratkan penanya, presiden muda itu memesan 1.000 cerutu havana lewat ajudannya, Pierre Salinger.

“Ketika saya datang dengan 2.000 cerutu pesanannya, Kennedy menyambutku hangat. Kemudian ia mengambil kertas dari mejanya dan menuliskan sesuatu yang isinya embargo terhadap Kuba,” kata Salinger, kepada majalah L’amateur de Cigare.

Bahkan, saat Bill Clinton masih menjabat pun harus menelan senyum pahit, ketika Kanselir Jerman Gerhard Schroeder menawarkannya cerutu yang dibawa Menteri Pembangunan, Heidemarie Wieczorek-Zeul, dari perjalanan ke Kuba.

Sambil bergurau Schroeder berkata, “Saya memegang satu cerutu milik Fidel (Castro) di tangan saya yang akan saya berikan kepada Anda.” Tentu saja, Clinton hanya bisa “tersenyum sopan”.

Namun, tak semua kekakuan AS dengan cerutu itu terjadi. Pada April 1982, untuk merayakan keberhasilan penerbangan ketiga pesawat ulang-alik Columbia, para petugas NASA di Houston bersuka cita dengan membagi-bagikan cerutu pada semua orang di ruang kontrol.

AWALNYA COLOMBUS, SIH: Cerutu yang merupakan gulungan tembakau dengan variasi ukuran yang menentukan namanya.

Yakni pendek kecil (cigarillo), panjang ramping (panetela), dan besar gemuk (corona) – tak bisa dipisahkan dari petualangan Christhoper Colombus saat mendarat di Tobago, sebuah wilayah di Amerika pada 1492.

Ia mendapati penduduk asli mengisap, mengunyah, atau menyedot – setelah dibakar ujungnya – gulungan daun tembakau.

Tembakau atau tobacco (dari nama negeri Tobago) yang menjadi bahan dasar cerutu itu lalu disebarkan Colombus kepada bangsa Spanyol dan Portugis, dan ia pun berpredikat sebagai penular “budaya bertembakau”.

Perkembangan selanjutnya, pada 1930 mulai muncul industri cerutu yang sudah memakai mesin gulung tembakau. Dan, kemudian Kuba populer sebagai produsen cerutu hebat di dunia.

Nyaris semua cerutu terdiri atas tiga bagian, yang masing-masing bagian menggunakan jenis tembakau yang berlainan.

Bagian terbesar yaitu daun tembakau pengisi yang membentuk badan cerutu. Lalu, dimampatkan dan diikat oleh daun tembakau pengikat, sebelum ditutup dengan daun tembakau pembungkus alias dekblaad.

Nah, meskipun tembakau Kuba terkenal sebagai tembakau isi dan pengikat cerutu. Menurut literatur dan ensiklopedia, tembakau Sumatera tetap menjadi standar tertinggi untuk daun tembakau pembalut cerutu (cigar wrapper).

Dan, yang terbaik di dunia itu masih berasal dari perkebunan tembakau di daerah kecil pesisir pantai timur Sumatera Utara, Deli.

Tembakau Deli, tak lebih umurnya dari 140 tahun, sejak penanaman pertama oleh Jacobus Niewenhuis pada 1864, di lahan tepi barat Sungai Deli yang kondang dengan nama Titipapan.

Staf perkebunan Belanda itu menanam bibit tembakaunya dan empat bulan kemudian ia memanen 50 bal daun tembakau kering yang langsung dikirim ke Rotterdam, Belanda, dengan harga 48 sen per 0,5 kg.

Lantas, beberapa maskapai perkebunan juga mulai membuka kebun baru. Pada 1889 berdiri Deli Maatschappij. Sejak itu, perkebunan tembakau pun tak hanya di Deli, tapi meluas sampai Binjai.

https://supertivi.com/nasib-tembakau-deli/

Sesungguhnya, apa, sih istimewanya cerutu dari tembakau Deli ini?

Nyalakan lisong, lalu sedot – jangan diisap – kemudian kepulkan asapnya. Aroma dan rasanya sangat khas, karena daunnya yang rata dan elastis membuat daya bakarnya merata dan hanya meninggalkan abu putih pada bekas bakarannya.

Tak hanya tembakau Deli saja yang kondang. Cerutu-cerutu buatan Perusahaan Daerah (PD) Tarumartani, Yogyakarta, pun sudah melanglang ke mancabuana.

Perusahaan itu pernah memproduksi sekitar 10–16 juta batang per tahun. Dan, 70% di antaranya dipasarkan ke AS, selebihnya untuk konsumsi domestik.

Dari hasil itu, laba yang diraup Tarumartani mencapai Rp700 miliar. Sejarah percerutuan mencatat, Tarumartani merupakan satu-satunya PD di Indonesia yang memproduksi cerutu, selain produksi beberapa perusahaan rokok semacam Djarum dan Wismilak.

NAMA-NAMA CANTIK: Kini, di penjuru dunia telah tersebar sekitar 1.000 merek cerutu dengan harga yang sangat bervariasi, dan sekitar 90%-nya diserap pasar AS.

Nama-nama “cantik” pun disandang gulungan tembakau, antara lain Romeo Y Julieta, Hoyo de Monterrey, Cohiba, Montecristo, Cuaba, El Rey Del Mundo, Partagas, La Gloria Cubana, Punch, Santa Damiana, Arturo Fuante, Bolivar, dan Davidoff. Itu tentu selain produk Indonesia di antaranya berlabel Adipati dan Ramayana.

Bila hati sudah terpikat, jalan apa pun akan dibuat. Itu pula yang dilakukan seorang anonim asal Asia yang berani membayar 23.000 franc Swiss (US$16.400) untuk satu kotak berisi 25 cerutu langka Kuba “Trinidad” yang dipak dalam kotak kayu cendana, pada sebuah lelang di Geneva pada 1997.

Beberapa tukang lelang Christie mengatakan, harga 920 franc Swiss (US$660) untuk sebuah cerutu yang berukuran panjang 19 sentimeter itu merupakan rekor baru.

Asal tahu saja, “Trinidad” sejak puluhan tahun silam hanya dibuat dan diisap Castro.

Meskipun, Lembaga Kanker Nasional AS pernah “berfatwa” bahwa mengisap cerutu tak dapat dinilai lebih aman daripada merokok.

Lantas disebutkan pula bahwa mengisap cerutu setiap hari dapat menimbulkan kanker bibir, lidah, mulut, kerongkongan, larynx, paru-paru, jantung koroner, dan kanker pankreas.

Ironisnya, penjualan cerutu di AS meningkat terus sampai 50% sejak 1993.

Tak bisa dimungkiri pula, bila ada anggapan bahwa bercerutu seakan bisa menaikkan jenjang pergaulan dan gaya hidup.

Pemicunya bisa beragam argumentasi, apalagi ketika para bintang Hollywood mengatakan suka bercerutu.

Belum lagi wajah ayu serta tampan mereka dengan cerutu yang terselip di bibir atau dalam jepitan di jari terpampang di muka media terkenal, maka terdongkrak pulalah si cerutu itu.

Perdana Menteri Inggris era 1940 dan 1950-an, Winston Churchill, pun tak pernah lepas dari cerutu. Bahkan, namanya diabadikan untuk cerutu dengan panjang 7 sentimeter.

Hal yang tak berlebihan disematkan pada lelaki gemuk tokoh Perang Dunia I yang mendapat gelar kebangsawanan sir itu.

Betapa tidak, dia telah mengisap sekitar 300.000 batang cerutu. Tak hanya Churcill, raja kriminal Chicago, Al Capone, pun selalu tampil bercerutu meskipun sedang merancang taktik kejahatannya.

Dan, kini di seluruh dunia berkembang pula cigars society, perkumpulan para penikmat cerutu. Gulungan tembakau ini tak hanya dinikmati para pria, bahkan mulai banyak diminati wanita, misalkan Demi Moore dan Claudia Schiffer, untuk menyebut contoh saja.

Rasa, aroma, dan kenikmatan bercerutu membubung, seiring asap yang mengepul. Begitulah si cerutu.

Dian Andryanto (dok lama)

 



Source link

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *