Hanya Ada Tiga Polisi Jujur Di Indonesia, Guyon Gus Dur Dikutip Kapolri

  • Bagikan


MATRANEWS.id — Kata Gus Dur, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.

Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa adanya humor soal ‘Cuma Ada 3 Polisi Jujur’ menjadi sebuah tantangan yang harus dijawab untuk melakukan perubahan citra Polri di masyarakat.

banner 336x280

Humor ‘Cuma Ada 3 Polisi Jujur’ yakni patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng, dikatakan Sigit, seakan telah melegitimasi bahwa sangat sulit mencari Polisi jujur dan berintegritas di Indonesia.

“Ini menjadi tantangan bagi saya untuk dapat merubah citra Polri di masyarakat,” kata Sigit dalam akun Instagram resminya.

“Saya optimis dapat mewujudkan hal tersebut karena saat ini masih banyak personel Polri yang memiliki sikap teladan dan benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pengayom rakyat,” ujar eks Kabareskrim Polri tersebut.

Nama Jenderal Hoegeng Imam Santoso begitu lekat dengan anekdot polisi jujur.

Sebelum menjabat sebagai Kepala Kepolisian kelima RI selama tahun 1968-1971, Hoegeng ternyata memiliki cerita panjang mengenai perjalanan hidupnya.

Dari polisi pangkat rendahan yang tak bergaji hingga menjadi orang nomor satu Polri. Pelayan resto tak digaji.

Ada  cerita Jenderal Hoegeng disantet polisi korup. Ada beberapa tentang kisah Hoegeng, mulai dari asmara di tengah konflik, termasuk saat Hoegeng tak digaji.

Dimana Jenderal yang keras dan lurus Hoegeng terkenal akan sifat keras dan lurusnya. Namun, tak jarang ia mendapat godaan dan tekanan dari rekan sesama polisi akibat keteguhannya menegakkan hukum.

Kali ini, masih dalam mengenang Jenderal Hoegeng, mengutip Beritasenator.com.

Asri Hadi, Bendahara Asosiasi Media Digital Indonesia menjadi moderator peluncuran buku “Dunia Hoegeng: 100 Tahun Keteladan.

 

Peluncuran Buku Dunia Hoegeng: 100 Tahun Keteladan.

Sejumlah tokoh nasional hadiri di acara di Balai Sarwono, Jl. Madrazah No.14, Jeruk Purut, Jakarta Selatan hari ini, Minggu (7/11/21).

Di antara sejumlah tokoh yang hadir itu ada Yapto Suryosumarno, Indro Warkop dan Watimpres, Mayjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto, Komjen Arief Sulistyanto, mantan Wakapolri, Komjen (Purn.) Drs. Nanan Soekarna.

Memberi cerita dibalik penulisan buku, penulis buku Farouk Arnaz dan perwakilan keluarga Hoegeng Adytya S. Hoegeng.

Pemred Indonews.id selaku Dosen Senior IPDN, Asri Hadi sebagai moderator membawa acara menjadi berkesan dan berbobot, sosok-sosok berintegritas .

Cerita human dari tokoh yang hadir melengkapi tulisan di buku “Dunia Hoegeng: 100 Tahun Keteladan”.

Kapolri dan Megawati menyebut Hoegeng sebagai sosok yang mampu meneladani kebaikan, kejujuran dan integritas.

Mantan Kapolri bernama lengkap Hoegeng Iman Santoso itu kerap disebut sebagai panutan bagi institusi Polri.

Buku 339 halaman ini mengambarkan secara jelas bagaimana ia menjaga integritasnya sehingga menjadikannya sebagai polisi sejati, yang menjalankan amanah sesungguhnya.

Karya wartawan senior Farouk Arnaz itu, selama karirnya, Jenderal Hoegeng digambarkan sebagai manusia langka yang belum ada padanannya dari dulu hingga kini.

Bagaimana tidak! Sejumlah posisi strategis dan basah pernah dijabatnya. Namun ia mampu mempertahankan prinsip, menjaga integritas, dan dedikasi. Itulah warisan yang ditinggalkannya: keteladanan.

Keteladanan Jenderal Hoegeng sebagai polisi sudah mencapai titik paripurna. Bahkan ia tak sendiri, ia juga mengajak serta keluarganya untuk terjun memasuki kehidupan yang penuh idealisme dan antikompromi yang sesunggunya sangat sulit untuk dijalankan.

Hoegeng tidak mau berkhianat dan berkongsi dengan kebohongan. la menjaga nama baik dan bersumpah dengan perbuatan nyata bukan sekadar kata-kata.

Sepak terjang Hoegeng yang tak bisa disetir membuat gerah para ‘tuan besar’ sehingga ia kehilangan jabatannya. Namun, Hoegeng tak pernah menyesali langkahnya.

la bahkan bergabung dengan Petisi 50 pada tahun 1980 yang lantang mengkritik penguasa saat itu yang dianggap mulai melenceng.

Buku ini berisi testimoni orang-orang terdekat Hoegeng, dari ‘dapurnya’ Hoegeng-yang tanpa dukungan, keikhlasan, dan pengertian mereka–tentu perjuangan Hoegeng akan lebih berat. Sebab Hoegeng adalah suami, Hoegeng adalah ayah, dan Hoegeng adalah kakek.

Upayanya menginternalisasi nilai-nilai ideal ke dalam tubuh Korps Baju Cokelat.

Hoegeng juga ibarat cermin besar bahwa pernah ada, dan bisa, seorang pejabat tinggi, hidup dengan benar.

Sosok pria yang penyuka lagu Hawai bukan dongeng dan bukan utopia. la menciptakan standar nilai yang tinggi. Baik nilai moral, sikap, dan perbuatan.

Selain itu, juga berisi tiga kasus menonjol di akhir karier Hoegeng sebagai Kapolri dan kebijakan-kebijakan Hoegeng semasa menjadi Kapolri yang terekam dalam berbagai media massa.

Seperti kasus penyelundupan mobil oleh Robby Tjahyadi Cs, kasus pemerkosaan Sum Kuning, dan kasus penembakan mahasiswa ITB Rene Coenrad oleh oknum taruna Akademi Kepolisian.

Hoegeng, yang lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921, bukan tipe Kapolri yang hobi main golf – karena tidak mampu beli stik. Dia juga tidak mampu membeli rumah dan mobil pribadi dan akhirnya pensiun dini menjelang usia 50 tahun setelah dicopot sebagai Kapolri.

Akhir kata, buku ini adalah bagian dari merayakan 100 tahun Hoegeng untuk merayakan keteladanan, merayakan kejujuran dan merayakan kebenaran.

Semoga polisi muda zaman now dapat belajar keteladanan, idealisme, kejujuran dari sosok Hoegeng agar menjadi amanah dan bekal di akhirat nanti

Klik Video: Hoegen



Source link

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *